Indonesia |

English

 
Search :

29-07-2008 10:07

PERKEMBANGAN TAJUK POHON JATI (Tectona grandis L.f )



Jurnal Penelitian HT Vol.3 No.1, Maret Th.2006
Oleh : Priyono Suryanto, W.B. Aryono, dan Moh. Sambas Sabarnurdin


        Pengelolaan hutan, pengguna pohon utama jati mengalami problematika penyediaan benih dan intensifikasi lahan. Program pencarian bahan tanaman jati menghasilkan alternatif pilihan yang berasal dari biji, kultur jaringan dan stek. Ketiga bahan tanaman ini mempunyai karakteristik yang perlu dikaji terutama perkembangan tajuk yang berhubungan dengan intensifikasi lahan. Intensifikasi lahan menekankan alternatif managemen ruang dalam bentuk agroforestri.

Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD) dengan tiga bahan tanaman (menggunakan variasi 5 pohon plus) dan tiga blok. Plot perlakuan berbentuk bujur sangkar, setiap plot berisi sembilan pohon dengan jarak tanam  6 m x 2 m. Estimasi penutupan tajuk dicapai pada waktu tegakan berumur berurut-turut 12 tahun, 15,2 tahun dan  8,5 tahun  bila biji, kultur jaringan dan stek pucuk dipakai sebagai bahan tanaman. Bila persediaan biji bermutu cukup, biji sebagai bahan tanaman adalah pilihan pertama, sedangkan apabila persediaan benih terbatas, dua alternatif lainnya dapat digunakan dengan pertimbangan penguasaan teknik dan lebih dari itu, alasan ekonomi.

              Tanaman jati (Tectona grandis L.f ) telah lama dikenal sebagai jenis pohon yang bernilai ekonomi tinggi antara lain karena kelebihan kayunya dari segi keawetan, kekuatan dan kemudahan dalam prosesingnya. Alasan itu pulalah yang membuat jenis ini demikian populer di kalangan penduduk terbukti dengan makin banyaknya penduduk ikut menanam jati pada lahan agroforest miliknya. Intensifikasi adalah sebuah keharusan untuk mewujudkan tanaman yang produktif, efisien dan kompetitif. Bibit berkualitas adalah hal pertama yang penting dalam program intensifikasi tanaman disamping tindakan manipulasi terhadap lingkungan pertumbuhannya. Program pencarian bibit unggul jati dilakukan sejak tahun 1930-an walaupun kemudian mengalami stagnasi dan baru dihidupkan lagi tahun 1980-an (Soeseno,1993). Bersamaan dengan program itu dibangun pula Pusat Pengembangan Hutan  Perhutani (dulu bernama Teak Centre) untuk mengantisipasi ledakan kebutuhan bibit jati bermutu yang diperkirakan akan terjadi segera. Peningkatan permintaan bibit jati tersebut terjadi akibat akumulasi penanaman rutin ditambah dengan usaha peningkatan rehabilitasi hutan rusak akibat penjarahan yang luasnya mencapai 187.597 Ha (Siswamartana,2004). Kebutuhan bibit tersebut akan bertambah besar lagi bila diperhitungkan  kecenderungan meningkatnya kebutuhan bibit jati masyarakat. Produksi kebun benih yang ada nampaknya tidak akan bisa mencukupi kebutuhan tersebut, sehingga dicari alternatif lain untuk memproduksi bibit tanaman jati melalui 1) penggunaan kultur jaringan, dan 2) propagasi semai dengan menggunakan stek pucuk. Pilihan pertama menguntungkan karena berpeluang lebih tinggi produksi yang dihasilkan dari pembiakan dari klon terpilih. Namun demikian, jumlah klon untuk keperluan ini juga masih terbatas. Pilihan kedua menghasilkan propagasi dari sejumlah besar genotif yang ada, memiliki kelebihan biayanya lebih murah dan teknologinyapun relatif sederhana.

            Dalam kondisi sekarang, penggunaan bahan tanam yang berasal dari biji, kultur jaringan dan stek pucuk telah digunakan. Adapun informasi karakteristik bahan tanam tersebut kurang teridentifikasi secara spesifik, khususnya mengenai perkembangan tajuk. Informasi perkembangan tajuk berhubungan dengan proses penangkapan energi sinar matahari. Dalam praktek tumpangsari, informasi perkembangan tajuk akan berhubungan dengan proses berbagi sumberdaya dengan tanaman pertanian, terutama mengenai durasi praktek tumpangsari.

              Pemeliharaan tegakan muda yang dititipkan kepada petani pada masa tumpangsari akan menghemat biaya tanam serta keamanan tanaman. Durasi tumpangsari pada tegakan muda dapat diprediksi  dari perkembangan tajuk jati. Dalam rangka itulah analisis tentang dinamisasi penutupan lahan oleh adanya perkembangan tajuk, menjadi relevan untuk pelaksanaan tumpangsari. Perkembangan tajuk diperkirakan akan berbeda menurut asal bahan tanaman yang dipakai, karena pohon akan mempunyai karakter yang berbeda ketika harus beradaptasi dengan lingkungan tumbuhnya. Sesuai dengan latar belakang itulah penelitian ini dilakukan. Pengkajian pertumbuhan tajuk tanaman jati ini dilakukan pada pohon yang ditumbuhkan dari biji, stek pucuk dan kultur jaringan, yang diperoleh dari 5 pohon induk yang berbeda. Bahan tanaman diperoleh dari  persemaian Pusbanghut Perhutani di Cepu dan ditanam tahun 1999 (Suryanto,2000). Penelitian ini untuk mengetahui karakteristik dan kinerja tajuk pohon jati asal bibit yang dikembangkan dari bahan tanaman (biji, stek pucuk, dan kultur jaringan); mengetahui estimasi dinamika penutupan lahan (akibat dari perkembangan tajuk jati) sebagai penentu durasi praktek tumpangsari dan menyediakan dasar pertimbangan bagi pengelola dalam mendesain pola tanam sesuai dengan bahan tanaman yang dipakai, dalam hubungannya dengan durasi praktik tumpangsari yang diinginkan


Copyright © P3HT 2007 - All Rights Reserved.