Indonesia |

English

 
Home >>
Search :

01-08-2011 12:16

PENGARUH PERLAKUAN AWAL TERHADAP VIABILITAS BENIH SENGON BUTOH (Enterolobium cyclocarpum Griseb)


: perkecambahan, perendaman, sengon butoh, viabilitas

I.   PENDAHULUAN

 

Sengon butoh (Enterolobium cyclocarpum Griseb) termasuk famili Leguminoceae,  pohon bertajuk rindang dan perakaran yang dalam,  sehingga jenis ini dapat berfungsi sebagai tanaman pionir untuk konservasi tanah dan air.  Pohon sengon termasuk jenis cepat tumbuh (fast growing), sehingga memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai tanaman industri, reboisasi, kayu energi, dan penghijauan karena daunnya disenangi oleh binatang ternak.

               Biji sengon butoh termasuk tipe orthodox dan sifat benih termasuk dormansi fisik  (kulit biji yang keras), sehingga  membutuhkan waktu yang lama untuk berkecambah.

 Percobaan yang telah dilakukan oleh  Syafe’le (1959) dalam Alrasjid dan Ardikusuma (1974),  bahwa benih sengon butoh hanya mencapai persentase kecambah sebesar 13%, dengan waktu berkecambah selama 139 hari. Untuk mempercepat proses perekembahan diperlukan perlakuan   awal atau teknik skarifikasi benih yang tepat.  Perlakuan awal dilakukan  untuk mematahkan sifat dormansi tersebut, sehingga dapat menambah kecepatan dan keseragaman berkecambah pada benih yang akan ditabur di persemaian.

              Perkecambahan ditentukan  oleh kualitas benih (vigor dan daya kecambah), perlakuan awal, sifat dormansi dan  kondisi perkecambahan seperti air, suhu, cahaya, dan media. Menurut  ISTA (1991), benih yang bersifat dorman biasanya dilakukan skarifikasi berupa perendaman atau stratifikasi. Perlakuan awal dengan perendaman dengan air pada suhu tertentu, dapat melunakkan kulit benih dan hidrasi dari protoplasma yang mengakibatkan aktifnya kembali pertumbuhan embryonic axis pada benih.  Family Leguminoceae  umumnya memiliki dormansi fisik, sehingga dengan merendam benih dalam air panas sangat efektif mematahkan dormansi fisik, karena tegangan air panas menyebabkan pecahnya lapisan macroscelereid (Brant et al. 1971 dalam  Scmidt  2000).  

Penelitian teknik skarifikasi benih sengon butoh dengan perlakuan awal  yaitu  perendaman dengan air panas pada derajat suhu yang berbeda,  merupakan cara paling aman dibanding dengan menggunakan zat kimia atau perlakuan mekanis.

              Informasi silvikultur mengenai jenis tanaman sengon butoh masih kurang, sehingga dibutuhkan dukungan teknologi budidaya khususnya masalah perbenihan dan pembibitan melalui kegiatan penelitian, dalam rangka pengembangannya dalam skala luas.

            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lama perendaman benih serta suhu yang sesuai  untuk proses perkecambahan, sehingga dapat meningkatkan viabilitas benih atau atau daya tumbuh benih, dan selanjutnya berpengaruh terhadap pertumbuhan semai.  Penelitian ini diharapkan  dapat melengkapi informasi mengenai teknologi pembudidayaan tanaman sengon butoh.

    

II.  BAHAN DAN METODE

 

A.  Lokasi dan Waktu Penelitian

 

 Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca (green house) dan di persemaian Balai Penelitian Kehutanan Makassar, di  Makassar. Penelitian dilaksanakan selama 5 bulan, mulai bulan Juli  sampai Nopember 2005

 

 

B.  Bahan dan Alat

 

            Bahan penelitian yang digunakan adalah benih sengon butoh, media semai berupa campuran tanah dan pasir, air panas, bak kecambah, polybag, alat pertanian, gembor, baskom, thermometer, timbangan, oven, kalipper, mistar, dan alat tulis menulis.

 

C.  Rancangan Penelitian

 

Rancangan  penelitian yang digunakan adalah pola rancangan acak lengkap (RAK) dengan analisis faktorial, yakni  faktor pertama adalah lama perendaman benih dalam air, dan faktor kedua  suhu air rendaman.

 Faktor lama  perendaman benih yang terdiri atas 3 taraf yaitu;

        - P1 =  perendaman selama  1 jam

        - P2 =  perendaman selama  4 jam

        - P3 =  perendaman selama  8 jam.  

  Faktor  suhu  air rendaman yang terdiri atas 4 taraf yaitu;

     - S0  =   air biasa ( kontrol)

     - S1  =   suhu  awal air rendaman   50 ºC    

     - S2  =   suhu  awal air rendaman   75 ºC

     - S3  =   suhu  awal air rendaman 100 ºC

Pada penelitian terdapat terdapat 12 unit kombinasi perlakuan, masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 ulangan.

 

D.  Pelaksanaan Kegiatan Penelitian

 

-  Persiapan bedeng tabur  dan media kecambah yang terdiri atas tanah campuran pasir

dengan perbandingan 2 : 1.  

- Skarifikasi dengan  cara  merendam benih  dalam air selama 1 jam,  4 jam, dan           8 jam,  air rendaman tersebut dipanaskan  dengan  suhu yang berbeda yaitu  50 ºC, 75 ºC, dan 100 ºC, untuk perlakuan kontrol menggunakan air biasa.   Suhu air tersebut adalah suhu awal pada saat benih direndam ke dalam air, selanjutnya benih dibiarkan terendam selama periode waktu yang telah ditentukan;

-  Pemeliharaan dilakukan setiap hari termasuk penyiraman dan penyiangan semai.

- Pengamatan dilakukan pada saat benih mulai berkecambah, dan parameter yang diamati adalah viabilitas benih meliputi; persentase kecambah, daya kecambah, dan kecepatan berkecambah;

- Semai yang tumbuh sempurna atau berumur 30 hari, siap di sapih ke polybag kemudian dilanjutkan pengamatan pertumbuhan bibit di persemaian.

- Semai yang telah disapih ke polybag diletakkan sesuai rancangan dan perlakuan yang telah ditentukan, selanjutnya dilakukan pemeliharaan bibit selama tiga bulan di persemaian. 

- Parameter yang diamati adalah pertumbuhan bibit di persemaian meliputi;  tinggi , diamater batang, berat kering, top root ratio, dan indeks mutu bibit.

 

 

 

E.  Pengolahan dan Analisis Data

 

            Pengamatan perkecambahan  dihitung dengan menggunakan nilai Persentase Kecambah (PK), Daya Kecambah (DK), dan Kecepatan Berkecambah (KB).                                                 Perlakuan yang berpengaruh nyata pada  analisis keragaman, dilanjutkan dengan uji Tukey atau uji HSD (Honestly Significant Different)  untuk mengetahui  perlakuan–perlakuan yang berbeda nyata dan hasilnya  dapat disajikan dalam bentuk tabel dan garfik.

 

 

III.  HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A.  Perkecambahan Benih

 

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa interaksi antara lama waktu perendaman dan suhu awal perendaman berpengaruh sangat nyata terhadap viabilitas benih kecuali  kecepatan berkecambah.

Tabel (Table).1 Nilai viabilitas  benih  pada interaksi perlakuan antara lama waktu perendaman benih dengan suhu air rendaman (The value of seed viablity for treatment interaction between immersed duration of seed with immersed of water temperature)

 

 

Perlakuan

(Treatment)

Persentase Kecambah (%)

(Germination Percentage)

Tukey   11,29

 Daya  Kecambah (%)

(GerminationCapacity)

Tukey  8,92

 Kecepatan Kerkecambah

   (Germinate Velocity))

(hari/days)

      P1 S0

      P1 S1

      P1 S2

      P1 S3

  P2 S0

  P2 S1

  P2 S2

  P2 S3

  P3 S0

      P3 S1

  P3 S2

  P3 S3

7,99   e

13,33  de

35,99   c

71,33   b

9,33     e

18,66   de

37,77   c

  88,66   ab

9,99   e

21,99  d

41,99  c

 89,33   a

           7,33  d

          10,66  d

          23,33  c

          57,99  b

            7,99  b

          11,99  d

          25,99  c

          65,99  c

            9,33  d

          13,99  d

          26,66  c

          71,33  a           

 

14,80

12,20

 9,20

 6,40

14,60

11,40

 6,80

 5,20

13,40

10,60

  6,60

  4,80

Keterangan (Note): Nilai  yang diikuti huruf yang sama. tidak berbeda nyata (Value of followed by the same are not significantly different)

 

           Dalam Tabel 1, menunjukkan perlakuan perendaman selama 8 jam dengan suhu awal 100 ºC (P3S3) menghasilkan persentase kecambah dan daya kecambah paling besar, serta berkecambah paling cepat,  namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan  perendaman selama 4 jam dengan suhu awal yang sama (P2S3). Persentase dan daya kecambah  paling tingi adalah 89,33 % dan 71,33 % yaitu pada perendaman selama 8 jam dengan suhu awal 100 ºC, kerena  perendaman yang agak lama dengan air yang bersuhu panas menyebabkan pecahnya kulit biji,  dan benih  menyerap air lalu kulit biji melunak dan membengkak, sekaligus masuknya oksigen sebagai proses pernapasan biji yang menyebabkan metabolisme sel-sel embryo terus berlangsung, hal tersebut sangat  mendukung proses perkecambahan.   Hasil yang diperoleh tersebut, hampir sama  pada jenis sengon (Parasereanthes falcataria) yaitu  persentase kecambah  mencapai  90% dengan perlakuan perendaman air panas  (Prajadinata dan Masano 1991).. 

            Daya kecambah sama  halnya dengan persentase berkecambah yaitu perlakuan yang terbaik adalah P3S3, dan yang paling rendah adalah pada perlakuan P1S0. Perlakuan  yang paling cepat berkecambah yaitu P3S3, dari data  terlihat bahwa perendaman dengan suhu awal 100 ºC, menunjukkan kecepatan berkecambah ± 6 hari setelah benih ditabur.  Proses perkecambahan berakhir pada hari ke 15 yaitu pada  perlakuan perendaman dengan suhu air biasa (kontrol)  selama  satu jam.

           Perendaman bertujuan untuk mematahkan dormansi kulit biji, khususnya untuk jenis legum yang mempunyai kulit biji yang tidak permeabel dan keras  (tipe orthodox).  Air yang terserap oleh biji dapat melunakkan kulit biji yang menyebabkan embryo dan endosperm mengembang,  sehingga kulit biji merekah atau pecah.  Walaupun  yang terbaik  pada perendaman selama 8 jam dengan suhu rendaman  100 ºC, tetapi tidak berbeda nyata dengan perendaman selama 4 jam dengan suhu yang sama.  Hal ini berarti dengan perendaman air antara 4-8 jam dengan suhu 100 ºC, dapat mempercepat proses perkecambahan pada benih sengon butoh.  Dedi Setiadi dan Charomaini (2000), bahwa benih balsa (Ochroma sp.) yang direndam air panas kemudian dibiarkan selama 24 jam dapat menghasilkan respon yang paling baik dalam mempercepat perkecambahan.

           Air adalah keperluan dasar untuk perkecambahan benih untuk aktifitas enzim yang memungkinkan terjadinya pemecahan kulit biji dan penggunaan bahan-bahan cadangan makanan (Copeland, 1976).   Menurut  Sutopo (1994)  bahwa  faktor  yang mempengaruhi penyerapan air oleh benih  adalah  sifat morfologi  benih terutama kulit biji dan jumlah air yang tersedia disekitarnya.  Proses perkecambahan benih dimulai dengan penyerapan air, lalu kulit biji melunak dan membengkak sekaligus masuknya oksigen sebagai proses pernapasan biji yang menyebabkan metabolisme sel-sel embryo terus berlangsung, hal tersebut sangat  mendukung proses perkecambahan  (Kamil, 1979).      

          Benih yang direndam air dengan suhu awal 100 ºC  sangat baik  untuk meningkatkan viabilitas benih sengon butoh, karena pada suhu tersebut dapat melunakkan kulit biji sehingga proses penyerapan air dan oksigen seimbang, dan proses perkecambahan dapat berlangsung secara efektif.  Menurut Sutopo (1994) proses perkecambahan dapat dipengaruhi oleh perendamam dalam air pada suhu tertentu, yang mengakibatkan dormansi fisik dapat dipatahkan dan permeabilitas benih meningkat. 

             Air panas merupakan pelarut yang cukup efektif dalam memecahkan masalah dormansi kulit atau fisik, dan cepat menghilangkan penghalang dormansi akibat adanya energi panas, serta memacu perkecambahan dengan mengubah struktur kulit fisik benih..  Energi panas mempermudah proses penyerapan air dan oksigen untuk mencapai keseimbangan, sehingga dapat mempengaruhi perkecambahan dan pertumbuhan semai.  Air panas dapat menghilangkan sumbat kalazal pada mikropil, sehingga benih lebih banyak menyerap air  (Bewley and Black, 1982  dalam  Setiadi dan Charomaini 2000).

 

B. Pertumbuhan Bibit di Persemaian

 

               Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa hanya perlakuan suhu air rendaman yang  berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit,  sedangkan interaksi antara lama perendaman dan suhu perendaman  pengaruhnya tidak nyata terhadap pertumbuhan bibit sengon butoh di persemaian.  Pertumbuhan   bibit sengon butoh pada  umur tiga bulan di persemaian disajikan dalam Gambar 2.

 

Gambar (Picture)1. Pertumbuhan  bibit sengon butoh pada  perlakuan awal benih yaitu lama perendaman (P) dengan suhu air rendaman (S). (The growth of Sengon butoh for pretreatment of seeds are immersed duration, P and immersed of temperature water,S)

 

            Pada Gambar1, menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi antara lama  perendaman dengan suhu air rendaman, secara statistik berbeda tidak nyata terhadap pertumbuhan bibit sengon butoh. Namun secara deskriptif, dapat dilihat bahwa pertumbuhan berbeda satu sama lain, dan pertumbuhan yang terbaik adalah perlakuan perendaman dengan air panas pada suhu 100 ºC.  Pertumbuhan semai umur tiga bulan di persemain dapat mencapai  tinggi  40,5 cm, diameter batang  2,54 mm,  dan  berat kering 3,95 gr.  Nilai parameter tersebut sudah memenuhi standar persyaratan untuk ukuran bibit yang siap tanam di lapangan, sehingga untuk pembibitan sengon butoh cukup dipelihara selama tiga bulan di persemaian. Hal ini sesuai kriteria yang dikemukakan oleh Supriadi dan Valli (1988) bahwa bibit yang siap tanam di lapangan yaitu bermutu baik,  mencapai tinggi  30-40 cm, diameter  batang minimum 3,0 mm, akar kompak, batang kokoh, segar, dan sehat.

           Hasil analisis uji Tukey terhadap pengaruh suhu air rendaman terhadap pertumbuhan bibit sengon butoh di persemaian disajikan dalam Tabel 2.

 

Tabel (Table) 2.  Pengaruh suhu  air rendaman terhadap pertumbuhan bibit sengon butoh  pada umur tiga bulan di persemaian (The effect of immersed of water teperature  for growth  to sengon butoh seedlings)

 

        Suhu Air

(Water Temperature)

     Tinggi (cm)

      (High ,cm)

  (Tukey:  8,07)

    Diameter(mm)

   (Diameter,mm)

   ( Tukey:   0,33)

  Berat Kering (gr)

   ( Dry  Weight,gr )

      ( Tukey: 1,06)

 

S0   ( kontrol)

S1   ( 50  ºC)

S2   (75  ºC)

Copyright © P3HT 2007 - All Rights Reserved.