Indonesia |

English

 
Search :

04-08-2011 15:21

HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN MERANTI MERAH Shorea ovalis (Korth.) Blume DAN Shorea balangeran (Korth.) Burck



HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN MERANTI MERAH Shorea ovalis (Korth.) Blume DAN Shorea balangeran (Korth.) Burck

 

Pest and Disease on Red Meranti Shorea ovalis (Korth.) Blume and Shorea balangeran (Korth.) Burck

 

Sri Utami1), Illa Anggraeni2) dan/and Nanang Herdiana1)

1)   Balai Penelitian Kehutanan Palembang

Jl. Kol. H. Burlian Km 6-5, Kotak Pos 179, Puntikayu, Palembang

Telp./Fax. (0711) 414864

2)   Pusat Litbang Hutan Tanaman,

Kampus Badan Litbang Kehutanan, Jl. Gunung Baru No.5, Bogor

Telp. (0251) 8631238, Fax. (0251) 7520005

 

I.  PENDAHULUAN

 

                Meranti merupakan jenis pohon komersial yang menjadi andalan bahan kayu pertukangan sejak dimulainya pengusahaan hutan alam pada tahun 1970.  Dua jenis meranti merah yaitu (Shorea ovalis (Korth.) Blume dan balangeran (Shorea balangeran (Korth.) Burck.) merupakan jenis pohon dari famili Dipterocarpaceae yang dikenal sebagai penghasil kayu pertukangan yang potensial. Beberapa kegunaan dari  meranti merah antara lain untuk kayu lapis, bangunan perumahan sebagai rangka, balok, galar, kaso, pintu, peti,  alat musik (pipa organ), lunas perahu, bantalan, dan tiang listrik (diawetkan).

                Potensi alami bagi kedua jenis meranti merah tersebut dari tahun ke tahun semakin berkurang.  Hal tersebut terkait dengan ekploitasi yang berlebihan maupun aktivitas kehutanan lainnya yang pada akhirnya meningkatkan laju degradasi hutan. 

Purnama (2007) (www.kapanlagi.com) menyatakan, degradasi hutan di Indonesia setiap tahun mencapai 2,8 juta ha dan saat ini sekitar 59 juta ha dari luas hutan 120,3 juta ha telah kritis. Melihat kondisi tersebut, pemacuan pembangunan hutan tanaman seyogyanya tidak hanya diarahkan untuk pengembangan kayu serat, tetapi juga harus diimbangi dengan pembanguan hutan tanaman kayu pertukangan dan kedua jenis meranti merah tersebut cukup potensial untuk dikembangkan.

                Sebagaimana jenis tanaman hutan lainnya, dalam pengembangan budidaya kedua jenis meranti merah tersebut juga menghadapi kendala, yaitu adanya serangan hama dan penyakit yang terjadi mulai dari persemaian sampai di lapangan. Secara umum, serangan tersebut dapat menimbulkan kerugian berupa kematian bibit, bibit menjadi kerdil dan pertumbuhannya terhambat. Dalam upaya pengelolaan hutan diperlukan  data dan informasi mengenai gangguan hutan termasuk  jenis hama dan penyakit yang menyerang, agar dapat diketahui dan ditentukan strategi pengendalian yang tepat dan terpadu.

II. HAMA DAN PENYAKIT MERANTI MERAH

(S. Ovalis dan S. balangeran)

A. Hama Meranti Merah (S. Ovalis dan S. balangeran)

1. Uret

Uret yang mempunyai nama daerah beragam seperti gayas, embug, lundi dan kuuk, merupakan larva dari kumbang wangwung, bangbung atau lege yang masuk dalam ordo Coleoptera, sub-ordo Lamellicornia. Pada persemaian larva uret ditemukan di dalam  media bibit meranti merah, memakan  akar hingga putus atau bagian kulit akar terkelupas. Karena serangan tersebut fungsi akar dalam penyerapan unsur hara dan air terganggu akibatnya bagian tajuk menjadi layu, menguning, kering dan akhirnya  bibit mati.

Larva uret inilah yang merugikan karena memakan akar sedangkan  imagonya dalam bentuk kumbang hanya memakan daun-daunan. Kalshoven (1981) mengatakan bahwa larva ditemukan pada tanah di kedalaman 20 – 80 cm. Imago betina  meletakkan telur dalam tanah, telur menetas menjadi larva yang mulai mencari makan dengan merusak akar. Umumnya imago aktif pada awal musim hujan, imago jantan lebih aktif dibandingkan dengan imago betina dan jumlahnyapun lebih banyak.

Pengendalian yang selama ini  dilakukan adalah dengan cara mekanis dan kimia. Cara mekanik yaitu dengan mengambil larva uret pada saat pembersihan gulma di persemaian. Cara kimia menggunakan insektisida berbahan aktif karbofuran.

 

2. Penggerek batang

Larva penggerek batang merupakan fase yang sangat berbahaya. Serangannya dicirikan dengan adanya lubang gerek pada batang. Gejala awal serangan ditandai dengan terjadinya perubahan warna pada kulit batang menjadi warna merah kecoklatan. Perubahan warna terjadi karena kulit batang luka akibat gerekan dan serbuk gerek menempel pada kulit batang. Setelah menggerek kulit batang terus masuk ke bagian kayu. Bentuk gerekan larva pada batang melebar secara tidak teratur dan menuju ke arah bawah. Serangan pada kayu gubal yang merupakan bagian yang sangat penting dalam proses transfer unsur hara ke daun. Bagian kayu gubal dimakan oleh larva mengakibatkan terganggunya proses transfer sehingga daun layu, kering dan akhirnya batang bagian atas mati. Jenis penggerek batang pada meranti merah ini belum teridentifikasi.

 

3. Hama biji (Nanophyes shoreae dan  Alcidodes dipterocarp)

Larva yang baru menetas menggerek buah hingga terjadi lubang gerek yang cukup besar yang dapat terlihat dengan mata telanjang, dari lubang gerek ini keluar butiran-butiran kotoran yang berwarna coklat muda. Butiran-butiran ini dijalin dengan benang sutera hingga menggumpal menutup lubang gerek. Serangan hama pada buah kadang-kadang terus berlangsung sampai buah berkecambah.  Serangga ini banyak ditemukan pada biji yang telah berkecambah atau pada anakan yang terdapat di bagian epikotilnya. Kupu-kupu serangga betina bertelur pada kulit buah bahkan mungkin pada bunga.

Di kebun percobaan Haurbentes ditemukan beberapa biji Shorea spp. yang berkecambah meskipun kotiledonnya masih terdapat larva hama yang masih aktif, sering juga diketemukan anakan yang kotiledonnya sudah habis hingga hama menyerang bagian lainnya seperti epikotil yang menyebabkan kematian.

Cara pengendaliannya dengan menggunakan insektisida sistemik dengan bahan aktif fosfamidon melalui perendaman  biji yang akan disemaikan 6 jam dengan konsentrasi 0,35 persen atau monokrotofos 0,10 persen dengan perendaman selama 6 jam efektif untuk mencegah serangan penggerek buah/biji Shorea spp. Bahan aktif fosfamidon dan monokrotofos digunakan sebagai racun sistemik dapat diserap baik oleh biji Shorea melalui kulit buah kemudian diserap ke dalam jaringan buah/biji sehingga serangga hama pemakan biji keracunan. (Intari, 1993 dalam Anggraeni dkk., 2006).

 

4. Hama daun (Mucanum sp., kumbang scarabaeid)

Serangan pada daun dilakukan oleh stadia nympha  Mucanum sp (Hemiptera : Pentatomidae) yang baru berumur  satu minggu,  mengakibatkan daun dan pucuk daun tanaman menjadi rusak. Serangga ini mengisap cairan tanaman dan bersamaan dengan itu dikeluarkan racun yang dapat mematikan pucuk dan daun tanaman, yang menyebabkan bibit mengalami kematian atau merana, sedangkan pada tegakan dapat menurunkan produksi getah.

Kumbang berwarna coklat kehitaman dan mengeluarkan bau seperti walang sangit. Kumbang bertelur diatas permukaan daun dengan jumlah 50 – 100 butir yang direkatkan satu sama lain dengan zat perekat.  Lama stadium telur 4 – 6 hari, panjang badan kumbang 2,5 – 3,0 cm dan lebar 1,4 – 1,6 cm. Bentuk dewasa kurang merusak dibandingkan dengan yang masih muda.

Untuk mencegah serangan hama kepik Mucanum sp di persemaian dapat digunakan insektisida hayati dengan bahan aktif Bacillus thuringiensis dengan takaran 3 – 5 cc/l (Intari,1996 dalam Anggraeni dkk., 2006).

 

5. Ulat kantong (Pteroma plagiophelps)

Ulat kantong yang menyerang daun meranti merah berukuran kecil yaitu jenis Pteroma plagiophelps (Lepidoptera: Psychidae). Ulat tersebut memakan daun meranti pada bagian permukaan bawah daun, pada daun terlihat tinggal urat-urat daun dan menimbulkan lubang-lubang kecil (Gambar 1). Bekas serangan pada daun berwarna coklat, bila serangan berat myebabkan daun mengering dan gugur. Pada saat beraktivitas, ulat tetap berada dalam kantong yang dibuat dari serpihan-serpihan daun yang dimakan dan dianyam dengan benang-benang sutera yang dikeluarkan dari mulutnya. Hasil pengamatan Suharti dkk. (2000) terhadap berbagai jenis ulat kantong diketahui bahwa ulat kantong aktif makan pada pagi hari (07.00 – 09.00) dan pada sore hari saat matahari tidak terik lagi. Ulat kantong makan  dengan cara menjulurkan kepalanya dan kaki yang bertumpu pada daun, dengan posisi kantong menggantung ke bawah atau tegak ke arah atas. Dengan cara ini pula ulat kantong dapat berpindah dari daun satu ke daun yang lain. Saat akan berpupa ulat kantong menempelkan benangnya pada permukaan bawah daun dan bergelantungan. Bentuk dewasa ulat kantong berupa ngengat, ngengat betina tidak bersayap, hidup didalam kantong, sedangkan ngengat jantan bersayap dan hidup bebas di alam. Ngengat betina dapat menarik ngengat jantan, perkawinan terjadi di dalam kantong selanjutnya ngengat betina meletakkan telur-telurnya pada daun dan ranting pada tanaman inangnya. Larva yang baru menetas dari telur ukurannya sangat kecil, hanya beberapa milimeter (± 2 mm) dan berjalan di atas daun. Ulat terus menganyam  dan baru berhenti setelah terbentuk kantong yang menyelubungi seluruh tubuhnya.

 
 
 

 

 

 

 

 

 


Gambar 1. Bentuk ulat kantong dan akibat yang ditimbulkannya (Foto: Illa Anggraeni)

 

Pengendalian hama ulat kantong di lapangan sudah pernah dilakukan pada tegakan A. mangium dan P. falcataria umur dua tahun yaitu digunakan suspensi jamur B. bassiana dosis 25 gr/l air, insektisida nabati rebusan kulit buah mahoni dosis 200 gr/l air, insektisida nabati perasan umbi gadung dosis 125 gr/l air, insektisida nabati perasan biji mahoni 150 gr/lr air dan insektisida nabati Neemazal T/S dosis 4 ml /l air, yang semua menggunakan insektisida yang ramah lingkungan dengan hasil yang cukup efektif (Suharti dkk., 2000).

 

6. Belalang (Valanga nigricornis)

Belalang (Valanga nigricornis (Orthoptera: Acridiidae)) memakan bagian daun, daun menjadi berlubang-lubang atau menyisakan tulang daun dan urat-urat daun. Akibat serangan belalang, daun menjadi berwarna kuning kecoklat dan akhirnya kering (Gambar 2). Belalang dewasa biasanya muncul bersama-sama, mengakibatkan kerusakan pada tanaman.

Selain menyerang meranti merah jenis belalang ini juga menyerang jati maupun tanaman kehutanan yang lain. Belalang mempunyai tubuh  berwarna hijau kekuning- kuningan atau abu-abu kecoklatan. Sayap bagian bawah belalang pada dasarnya merah. Belalang betina bentuknya lebih panjang dari belalang jantan. Apabila belalang betina bertelur, abdomennya memanjang  hampir dua kali lipat, kemudian abdomen seperti saluran tersebut dimasukkan ke dalam tanah hingga terbentuk lubang dan meletakkan telurnya berkelompok dalam lubang. Telur-telur tadi dilindungi busa putih sampai permukaan tanah. Belalang bertelur pada awal musim kemarau dan akan menetas pada awal musim hujan (Suharti & Intari, 1974).

       
 
   
 
 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 2. Bentuk belalang dan akibat yang ditimbulkannya (Foto : Sri Utami)

 

B. Penyakit Meranti Merah (S. Ovalis dan S. balangeran)

1. Bercak daun Pestalotia sp.

Gejala awal penyakit ditandai dengan adanya bercak-bercak kuning pada daun seperti gejala klorosis. Bercak nekrotik ini dapat menyatu membentuk bercak yang lebih luas dengan batas bercak berwarna coklat agak kemerah-merahan, pusat bercak tampak agak menebal berwarna abu-abu kehijauan. Bila intensitas serangan tinggi maka daun yang terserang gugur sebelum waktunya, bahkan seluruh daun dapat gugur tetapi tidak mematikan tanaman, daun dapat kembali tumbuh. Akibat dari serangan bercak ini pertumbuhan tanaman terhambat, karena terganggunya proses fotosintesa.

Penyakit bercak daun ini disebabkan oleh fungi patogen Pestalotia sp. Fungi ini masuk dalam kelas Deuteromycetes dan famili Melanconiaceae (Alexopoulos & Mims, 1979). Fungi mempunyai hifa berwarna putih, mempunyai tubuh buah yang disebut aservuli yang terletak di bawah epidermis tanaman inang. Dalam aservuli terdapat konidia yang bersekat 2 – 5 dengan dinding tebal, konidia berbentuk lonjong agak meruncing pada kedua ujungnya. Pada salah satu ujung konidia terdapat seperti bulu cambuk yang berjumlah 3 atau 5 (Anggraeni dkk., 2006).

Pengendalian penyakit bercak daun dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain,

-       Pemilihan bibit yang tanpa bercak untuk ditanam di lapangan

-       Sanitasi dan eradikasi

-       Menggunakan cuka kayu, seperti yang telah dilakukan pada bibit Pinus merkusii yang terserang Pestalotia sp. di KPH Pekalongan Timur (Persemaian Sentral pinus Linggo Asri, BKPH Paninggaran) (Anggraeni,2007).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 3. Biakan murni dan bentuk spora  Pestalotia sp. (Foto : Illa Anggraeni)

 

2. Bercak daun Curvularia sp.

Penyakit bercak daun, sesuai dengan namanya ditandai dengan terdapatnya noda atau bercak pada permukaan atas dan bawah daun. Bercak mula-mula berbentuk bintik kuning-hijau atau lingkaran kecil. Semakin berkembang populasi patogen pada permukaan daun, bercak semakin bertambah besar berwarna coklat dengan batas pinggir agak coklat kemerah-merahan. Perkembangan bercak arahnya sedemikian rupa sehingga membentuk alur mengikuti urat daun (Suharti dkk., 1991). Daun sakit kemudian menjadi coklat dan selanjutnya menjadi abu-abu, mengkerut dan mati.

 
 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 4. Bentuk hifa dan spora Curvularis sp. (Foto : Illa Anggraeni)

Penyakit bercak disebabkan oleh fungi patogen Curvularia sp., masuk ke dalam kelas Deuteromycetes dan ordo Moniliales. Konidiofor dan konidia berwarna coklat tua dengan sel-sel ujungnya agak jernih. Konidia bersel 3 sampai 5 mempunyai ciri khas melengkung dan sel-sel tengahnya membesar.

Curvularia sp. adalah fungi yang dapat terbawa benih, sehingga penyakit bercak daun ini dimulai sejak bibit masih berada di persemaian sampai berbentuk tanaman di lapangan, maka teknik pengendaliannya dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain (Anggraeni dkk., 2006) :

-       Perlakuan biji atau perlakuan tanah yang akan digunakan sebagai media semai. Perlakuan biji dapat dilakukan dengan cara pemilihan biji yang baik kemudian direndam dalam larutan fungisida  ( ± 1 jam) berbahan aktif benomil. Sedangkan perlakuan tanah dapat dilakukan dengan cara memanaskan dengan menjemur dibawah sinar matahari, sangrai, kukus atau ditaburi fungisida.

-       Melakukan pengamatan intensif, apabila ada daun yang terserang segera diambil dan dibakar.

-       Apabila serangan sudah merata pada seluruh bibit/tanaman muda, kemudian disemprot dengan fungisida berbahan aktif benomil dan mankozeb setiap 1 atau 2 minggu sekali dosis 0,5 – 1 gram per liter air.

 

3. Busuk akar

Penyakit busuk akar dapat disebabkan oleh beberapa fungi patogen tanah, umumnya menyerang tanaman yang sudah memiliki jaringan yang relatif kuat, seperti pada tanaman muda dan tegakan di lapangan. Apabila tanaman yang terserang penyakit busuk akar ini adalah tanaman muda 5 bulan sampai 1 tahun, maka gejala yang tampak pada tanaman tersebut adalah adanya kelayuan, yang sifatnya bisa sementara atau permanen tergantung dari berat tidaknya serangan. Pada kelayuan yang  bersifat sementara, tanaman layu terlihat jelas pada siang hari sedangkan pada sore harinya tanaman kembali menjadi segar. Jika kelayuan tersebut bersifat permanen, maka tanaman akan langsung mati dalam waktu yang relatif singkat. Pada kelayuan yang bersifat sementara dapat diikuti oleh adanya perubahan warna daun yang menjadi kuning, lama kelamaan daun rontok tanaman mati kering. Bila bagian akar tanaman yang sakit dibongkar/dicabut serta dibersihkan, maka akan terlihat adanya pembusukan pada akar tersebut yang dicirikan dengan menghitamnya bagian luar akar dan berair. Jika bagian akar yang membusuk dipotong secara melintang/membujur maka terlihat pula perubahan warna pada jaringan yang menjadi coklat kehitam-hitaman atau kelabu kehitam-hitaman. Hal ini karena adanya kerusakan pada korteks yang bersifat lokal. Sedangkan kelayuan yang tampak diakibatkan karena adanya penyumbatan jaringan transportasi oleh patogen, sehingga jalannya nutrisi dan air dari akar ke atas terhambat.

Penyebab penyakit busuk akar pada meranti merah teridentifikasi  disebabkan oleh fungi patogen Lasiodiplodia sp. dan Fusarium sp.

Lasiodiplodia sp. masuk dalam famili Sphaeropsidaceae dan kelas Deuteromycetes (Alexopoulos dan Mims, 1979). Jamur ini mempunyai tubuh buah sederhana dan mengelompok, dari dalam tubuh buah ini muncul konidiofor yang pada ujungnya terdapat konidia. Koloni jamur pada medium agar berwarna abu-abu kehitam-hitaman. Jamur berkembang biak pada suhu berkisar antara 15° C – 30° C dengan kelembaban 95% - 100%.

Fusarium sp. termasuk ke dalam famili Tubercullariaceae, kelas Deuteromycetes. Patogen menghasilkan 3 macam spora yaitu mikrokonidia, makrokonidia dan klamidospora. Mikrokonidia adalah konidia berbentuk bulat sampai lonjong, terdiri dari satu sel dan konidia ini paling banyak dihasilkan dalam kondisi apapun dan umumnya terbentuk pada saat patogen berkembang dalam jaringan tanaman inang.

 
 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © P3HT 2007 - All Rights Reserved.