Indonesia |

English

 
Home >>
Search :

05-08-2011 08:49

HUBUNGAN ANTAR FAKTOR PENGGANGGU PENYEBAB KERUSAKAN HUTAN



HUBUNGAN ANTAR FAKTOR PENGGANGGU

PENYEBAB KERUSAKAN HUTAN

 

Interaction among Disturbing Factors causing Forest Degradation

 

Sri Utami1) dan Wahyu Catur Adinugroho2)

 

1)   Balai Penelitian Kehutanan Palembang

Jl. Kol. H. Burlian Km 6,5, Kotak Pos 179, Puntikayu Palembang

Telp./Fax. (0711) 414864

2) Balai Penelitian Kehutanan Samboja

Jl. Soekarno-Hatta Km 38, Semboja Po Box 578, Balikpapan 76112

Telp. (0542) 7217663, Fax. (0542) 7217665

 

I.        PENDAHULUAN

 

Pengendalian kerusakan hutan sangat perlu dilakukan mengingat hutan merupakan sumber daya alam yang mempunyai berbagai fungsi, baik ekologi, ekonomi, sosial maupun budaya yang diperlukan untuk menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Pengendalian kerusakan hutan ini dapat dilakukan melalui kegiatan perlindungan hutan, yaitu upaya untuk menjaga hutan dari faktor-faktor yang dapat menimbulkan kerusakan pohon atau tegakan pohon dalam hutan agar fungsinya sebagai fungsi lindung, konservasi atau produksi tercapai secara optimum dan lestari sesuai dengan peruntukannya. Kegiatan perlindungan hutan merupakan bagian dari kegiatan pengelolaan hutan yang mempunyai prinsip :

1.       Mencegah dan membatasi kerusakan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan yang disebabkan oleh perbuatan manusia, ternak, kebakaran, bencana alam, hama serta penyakit.

2.       Mempertahankan dan menjaga hak-hak negara, masyarakat dan perorangan atas hutan, kawasan hutan, hasil hutan, investasi, serta perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan hutan.

Mengingat begitu pentingnya fungsi hutan bagi kemakmuran rakyat dan melihat kondisi hutan yang saat ini sangat memprihatinkan maka tulisan ini membahas faktor-faktor yang bisa menyebabkan gangguan terhadap hutan dan interaksi/hubungan sebab-akibat gangguan hutan beserta contoh-contohnya. Dengan mengetahui faktor-faktor pengganggu dan interaksinya diharapkan kita bisa menentukan tindakan perlindungan hutan yang tepat dalam rangka menjaga hutan agar fungsinya tercapai secara optimum dan lestari sesuai dengan peruntukan hutannya.

 

 

 

 

 

II.  HUBUNGAN ANTAR FAKTOR GANGGUAN HUTAN

 

Kerusakan pohon atau tegakan pohon di dalam hutan atau kawasan hutan dapat disebabkan oleh beberapa faktor pengganggu, diantaranya adalah kebakaran, hama, penyakit dan penggembalaan. Antar faktor penyebab gangguan hutan ini memiliki hubungan sebab akibat. Faktor gangguan penggembalaan akan memberikan pengaruh terhadap munculnya faktor gangguan kebakaran, begitupun dengan faktor-faktor gangguan yang lain. Hubungan antar faktor pengganggu penyebab kerusakan hutan ini dapat digambarkan dalam suatu bagan (Gambar 1).

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

Gambar 1.  Bagan hubungan faktor pengganggu penyebab kerusakan hutan

 

Berikut ini uraian lebih rinci mengenai faktor-faktor pengganggu dan hubungan sebab-akibat beserta contohnya :

a.  Hama - Penyakit

Hama merupakan salah satu faktor pengganggu hutan. Hama adalah semua binatang yang menimbulkan kerusakan pada pohon atau tegakan hutan dan hasil hutan, misalnya kerusakan hutan yang disebabkan oleh serangga, tikus, babi hutan, nematoda, dan binatang lainnya. Hama mempunyai interaksi dengan penyakit yang bisa mengakibatkan tingkat kerusakan hutan tinggi. Adanya serangan hama bisa memicu timbul dan berkembangnya  penyakit. Selain itu hama juga berperan sebagai vektor virus. Seperti halnya hama, penyakit juga merupakan faktor pengganggu hutan. Penyakit adalah salahnya fungsi sel dan jaringan inang yang berasal dari gangguan secara terus-menerus oleh agen patogenik (seperti virus, bakteri, dan cendawan) atau faktor lingkungan dan menyebabkan berkembangnya gejala. Serangan penyakit ini biasanya terjadi pada tanaman yang masih muda, baik di persemaian maupun di lapangan. Adanya serangan penyakit bisa menstimulasi timbulnya serangan hama.

Studi kasus 1    :   Serangan hama pada tanaman belangeran (Shorea balangeran) di persemaian memicu timbulnya penyakit bercak daun

Pada umur 3-6 bulan bibit belangeran terserang hama di persemaian. Hama yang menyerang adalah ulat kantong (Pteroma plagiophelps) dan belalang (Valanga nigricornis) (Utami & Priatna, 2008). Gejala serangan ulat kantong ialah terdapatnya lubang-lubang beraturan  pada daun karena dimakan ulat dan seringkali ulat kantong ditemui menempel di bagian bawah permukaan daun. Adapun gejala serangan belalang ialah terdapatnya lubang-lubang pada daun terutama daun muda, lama-kelamaan daun tersebut bisa menjadi kering. Belalang ini menyerang daun tanaman belangeran dengan cara memakan daging daun (jaringan parenkim), sedangkan tulang daun dan urat-urat daun tidak dimakannya. Dengan demikian bila daging daun telah habis dimakan maka helaian daun tinggal berbentuk kerangka/berlubang-lubang yang berwarna coklat kekuningan.

                Berdasarkan pengamatan di lapangan, lubang-lubang bekas gigitan belalang dan ulat tersebut menimbulkan luka yang menstimulasi timbulnya penyakit bercak daun. Patogen penyebab penyakit masih belum diidentifikasi. Gejala penyakit tersebut adalah adanya bercak berwarna kekuningan pada daun. Bercak tersebut lama kelamaan meluas dan hampir menutupi seluruh permukaan daun. Lambat laun daun menjadi kering dan tanaman mati. Semakin tinggi tingkat serangan ulat kantong dan belalang maka semakin tinggi pula serangan penyakit bercak daun tetapi dengan syarat kondisi lingkungan mikro seperti suhu dan kelembaban mendukung timbul dan berkembangnya penyakit.

 

Studi kasus 2    :   Serangan uret pada meranti (Shorea ovalis) menstimulasi timbulnya serangan busuk akar

Pada tanaman meranti (S. ovalis), serangan uret/hama pemakan akar bisa menstimulasi timbulnya serangan busuk akar. Gejala serangan uret/hama pemakan akar yaitu daun meranti menguning dan lama kelamaan layu. Kondisi tersebut disebabkan karena tanaman kekurangan pasokan air akibat putusnya pembuluh akar yang dimakan uret. Lama kelamaan akar meranti bisa terserang penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Lasiodiplodia sp. dan Fusarium sp. (Utami et al., 2008). Hal ini disebabkan karena patogen Lasiodiplodia sp. dan Fusarium sp. mampu menginfeksi  bekas luka pada akar meranti. Meranti yang terserang penyakit busuk akar dan serangan uret tersebut lama kelamaan bibitnya menjadi layu dan mudah roboh.

 

Studi kasus 3    :   Timbulnya serangan Aphid dan penyakit embun jelaga pada daun jelutung rawa (Dyera lowii)

Interaksi antara hama dengan penyakit tersebut juga terjadi pada pertanaman jelutung rawa (D. lowii) yang terletak di Kabupaten OKI, Provinsi Sumatera Selatan. Daun jelutung rawa yang terserang aphid, juga terserang penyakit embun jelaga/black mildew yang disebabkan oleh cendawan Meliola sp. Daun yang diserang daun muda maupun tua. Penyakit ini menyebabkan warna hitam pada permukaan daun bagian atas. Meliola sp. akan tumbuh bila pada permukaan tanaman terdapat embun madu yang dikeluarkan oleh aphid. Cendawan ini tidak bersifat patogenik, melainkan hanya menempel pada permukaan daun. Makanannya adalah embun madu. Hifa cendawan tumbuh saling menjalin dan menenun membentuk selaput tipis berwarna hitam. Bila udara kering, selaput/tepung hitam akan lepas dan pecah-pecah, kemudian menyebar terbawa angin. Pada musim kemarau, perkembangbiakan berlangsung cepat karena aphid yang mengeluarkan embun madu jumlahnya banyak.

 

b.  Kebakaran

Kebakaran merupakan salah satu faktor pengganggu hutan. Intensitas dan frekuensi kebakaran menimbulkan variasi pada daya pengaruhnya, baik pengaruh yang merugikan maupun yang menguntungkan. Setiap daerah memiliki ciri sendiri dan masalah kebakaran tidak hanya bervariasi diantara berbagai kawasan yang berbeda, akan tetapi juga di dalam setiap kawasan tertentu menurut keadaan habitat yang berbeda satu dengan lainnya.

Di daerah tropika timbulnya kebakaran cenderung ada kaitannya dengan bentuk kehidupan rerumputan dan tumbuhan/tanaman yang ada di sekitarnya. Dari sinilah timbul interaksi antara kebakaran dengan permasalahan hama dan penyakit. Kebakaran bisa meningkatkan atau menekan serangan hama dan penyakit. Adanya kebakaran bisa meningkatkan serangan hama dan penyakit yang disebabkan oleh sisa-sisa batang dan ranting yang patah setelah terbakar yang menyebabkan luka dan akhirnya dapat menimbulkan serangan penyakit. Selain itu pasca kebakaran timbul regenerasi dengan timbulnya kuncup dan cabang-cabang. Hal ini akan mengakibatkan serangan hama akan meningkat apalagi jika terubusan tanaman tersebut adalah inang utama hama. Karena pada umumnya serangga hama lebih menyukai daun tanaman muda/pucuk/tunas tanaman.

 

Studi kasus 1    :   Kerusakan tegakan Acacia mangium  akibat penyakit pada Areal Bekas Kebakaran Hutan di Unit III Kelompok Hutan Subanjeriji PT. Musi Hutan Persada, Sumatera Selatan.

Kejadian kebakaran yang memberikan pengaruh terhadap peningkatan kerusakan tegakan akibat penyakit ini dilaporkan oleh Sugeng Eliandy dalam skripsi Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor pada tahun 1996. Studi dilakukan di Unit III Kelompok Hutan Subanjeriji PT. Musi Hutan Persada, Sumatera Selatan.

Sebagian areal tegakan A. mangium tahun tanam 1990/1991 dan tahun tanam 1991/1992 mengalami kebakaran. Tipe kebakaran yang terjadi adalah kebakaran permukaan (surface fire) yang meluas menjadi kebakaran tajuk (crown fire). Kebakaran terjadi disebabkan oleh kelalaian manusia yaitu pembersihan ladang dan perkebunan dengan pembakaran yang tidak terkendali yang akhirnya merembet ke lokasi tegakan A. mangium tahun tanam 1990/1991 dan tahun tanam 1991/1992.

Hasil pengamatan Eliandy (1996) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan persen tingkat kerusakan akibat penyakit pada areal bekas kebakaran dibandingkan dengan areal yang tidak terbakar pada lokasi tegakan A. mangium tahun tanam 1990/1991 dan tahun tanam 1991/1992.  Rata-rata tingkat kerusakan akibat penyakit di areal bekas kebakaran dan tidak terbakar pada tegakan A. mangium di lokasi studi dapat dilihat pada Tabel 1.

 

Tabel 1.    Rata-rata tingkat kerusakan tegakan  A. mangium  akibat penyakit di areal bekas kebakaran dan tidak terbakar pada tegakan  A. mangium  tahun tanam 1990/1991 dan 1991/1992 Unit III Kelompok Hutan Subanjeriji PT. Musi Hutan Persada

 

No.

Tahun tanam

Rata-rata Kerusakan (%)

Areal bekas kebakaran

Areal tidak terbakar

1.

1990/1991

12,44

4,58

2.

1991/1992

  8,06

4,05

Populasi

11,02

4,44

Sumber : Eliandy (1996)

 

Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa kebakaran hutan berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan persen tingkat kerusakan akibat penyakit pada taraf kepercayaan 99%.

Jenis-jenis penyakit yang ditemukan adalah jenis penyakit busuk batang, busuk cabang dan busuk akar. Penyakit busuk batang dan busuk cabang disebabkan oleh jamur C. salmonicolor, Cunninghamella sp., Fomes sp. dan Mariannae sp. Sedangkan penyakit busuk akar disebabkan oleh jamur Botryodiplodia sp. Dari jenis-jenis jamur yang ditemukan C. salmonicolor merupakan jenis jamur yang frekuensinya sering ditemukan. C. salmonicolor lebih dikenal sebagai penyebab penyakit jamur upas (pink disease), jamur ini menyebabkan busuknya batang atau cabang. Pada tahun 1986 di Sarawak dan Sabah dilaporkan bahwa penyakit jamur upas ini telah menyerang tanaman A. mangium dan infeksi yang serius terjadi di Sabah dengan tingkat serangan sebesar 17% (Chin, 1990 dalam Awang & Taylor, 1993).

Kerusakan hutan akibat kebakaran masih banyak ditemukan pada areal bekas kebakaran di lokasi studi, baik berupa tegakan mati, tegakan yang merana, tunggak-tunggak, maupun batang-batang yang tumbang di lantai hutan. Kondisi ini yang memungkinkan untuk menjadi pemicu berkembangnya penyakit lebih lanjut, sebab tanaman yang mati/busuk merupakan tempat yang baik untuk tumbuh dan berkembangnya penyakit.

Walaupun secara umum (populasi) tingkat kerusakan akibat penyakit di areal bekas kebakaran masih kecil (11,02%) dan bila dibandingkan di areal yang tidak terbakar sebesar 4,44%, tingkat serangannya menunjukkan peningkatan sebesar 6,58% (Tabel 1), tetapi hasil analisis sidik ragam perbedaan tingkat kerusakan ini menunjukkan peningkatan yang sangat nyata pada taraf kepercayaan sebesar 99%. Oleh karena itu bila kondisi demikian dibiarkan terus berlangsung, bukan hal yang tidak mungkin tingkat serangannya akan terus meningkat (menjadi berat), sebab jamur merupakan organisme hidup yang dapat terus tumbuh dan berkembangbiak bila didukung oleh iklim yang sesuai dan tersedianya bahan makanan yang cukup untuk kelangsungan hidupnya.

 

Studi kasus 2    :   Dampak kebakaran terhadap vegetasi di hutan tanaman pinus di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Jawa Barat.

Pada tanggal 17 September 2002, tegakan Pinus merkusii di bagian barat dan utara Blok I Cimenyan Hutan Pendidikan Gunung Walat mengalami kebakaran. Kebakaran ini disebabkan oleh aktivitas pembukaan lahan oleh masyarakat di sekitar hutan. Berdasarkan tingkat kekerasan kebakaran, kebakaran yang terjadi merupakan kebakaran ringan sehingga menimbulkan kerusakan yang tidak parah. Berdasarkan studi yang dilakukan Syaufina dkk. (2005) dilaporkan bahwa kejadian kebakaran diperkirakan secara tidak langsung menyebabkan peningkatan sensitivitas vegetasi terhadap serangan hama dan penyakit. Diperkirakan kebakaran yang terjadi di Hutan Pendidikan Gunung Walat secara tidak langsung menyebabkan kerusakan pada vegetasi, yaitu  terjadinya kanker, conk, brooms pada akar atau batang dimana kerusakan ini hanya ditemukan pada areal kebakaran saja (Gambar 2).

Gambar 2.     Tipe kerusakan vegetasi pada areal bekas kebakaran dan tidak terbakar

 

Adanya kebakaran juga bisa menekan serangan hama dan penyakit. Sebelum tanaman hutan terbakar, tingkat serangan hama dan penyakit tinggi. Pasca kebakaran, karena inang hama tersebut tidak ada yang tersisa maka hal ini berpengaruh pada perilaku serangga hama. Hama tersebut akan memilih inang lain yang sebelumnya mungkin bukan inang utamanya. Akhirnya ketika hama tersebut kembali menemukan inang utama/inang semula, preferensi makan serangga hama dan tingkat serangannya menjadi rendah.

c.  Penggembalaan

Penggembalaan ternak di hutan merupakan salah satu faktor pengganggu hutan dimana kegiatan tersebut bisa memicu timbulnya kebakaran hutan. Terdapat 3 (tiga) faktor penyebab timbulnya kebakaran hutan, yaitu kesengajaan, kelalaian, dan pengaruh alam. Faktor kesengajaan dan kelalaian inilah yang menyebabkan terjadinya kebakaran. Manusia, dalam hal ini penggembala sengaja membakar hutan untuk memperoleh tunas atau rumput muda sebagai makanan ternak. Selain itu penggembala juga melakukan kecerobohan atau kelalaian, seperti membuang atau meninggalkan secara sembarangan puntung rokok atau api yang belum dimatikan di hutan. Api dengan sangat mudah dapat menyulut serasah hutan yang kering, lebih-lebih jika terhembus angin kebakaran yang ditimbulkan oleh pengaruh alam.

Penggembalaan juga dapat menganggu dan menghambat pertumbuhan tanaman, baik pada tanaman muda maupun tanaman yang sudah melewati masa muda. Tanaman muda sangat peka terhadap penggembalaan karena tajuknya masih rendah dan batangnya masih lemah sehingga mengakibatkan daun rusak sampai gundul, kulit batang terkelupas dan akar tanaman mengalami luka-luka. Hal ini yang akan memicu timbulnya serangan patogen. Selain itu penggembalaan secara langsung maupun tidak langsung mengakibatkan tanaman yang sudah melewati masa muda menjadi tidak sehat. Pertumbuhan tanaman/pohon yang tidak sehat  akan menjadikan pohon mudah terserang serangan hama atau patogen. Penggembalaan selama bertahun-tahun pada suatu tegakan menyebabkan kerusakan yang parah bahkan dapat menyebabkan kematian pohon-pohon penyusun tegakan.

 

III.  PENUTUP

<
Copyright © P3HT 2007 - All Rights Reserved.